Membingkai Inspirasi di Kelas Inspirasi Pasuruan 3 SDN Penunggul

Cerah :D
Cerah 😀

Sekolah dasar berbentuk L dengan cat warna orange terang terlihat ‘matching’ dengan ‘seragam’ kami. Ada 2 warung kecil berbentuk gubuk terbuka di sisi kanan dan hutan mangrove terlihat tak seberapa jauh di depan sekolah. Atmosfer khas pesisir yang terik dan berdebu tak menyurutkan semangat kami berbagi inspirasi bersama adik-adik SDN Penunggul ini.

Waktu menunjukkan pukul 7 lebih 5 menit saat minibus kami memasuki parkir depan sekolah tempat rombel (rombongan belajar) kami ditugaskan; SDN Penunggu. Kami bertujuh (kak Raya dan kak Vivi sebagai fasilitator, kak Mifta, kak Khusnul dan kak Indi sebagai pengajar, serta saya dan kak Wawan sebagai dokumenter) bergegas keluar dan mengangkati berbagai perlengkapan yang dibutuhkan selama kegiatan sampai tengah hari nanti. Para murid serta dewan guru sudah berbaris rapi di lapangan melakukan gladi bersih sembari menunggu kami yang terlambat beberapa menit. Continue reading Membingkai Inspirasi di Kelas Inspirasi Pasuruan 3 SDN Penunggul

Advertisements

Kebahagiaan itu..

image

Jadi, apa yang lebih indah dari dunia anak-anak? 🙂
Ada kupu-kupu, bunga, permen, pelangi, bintang, coklat, mobil-mobilan, boneka, kuda poni, krayon, naga, galaksi, pangeran, putri, istana, traktor, pesawat, roket dan hal-hal seru lainnya. Saya hampir tidak pernah kehabisan cerita ketika mengobrol ngalor-ngidul bersama anak-anak. Seperti saat bertemu bocah Tengger bernama Bagus, sampai anak-anak di sekitar tempat saya mengais rupiah (Diva, Fia, Icha, Azam, Zul, Wahyu dan Dika). Mereka semua menyenangkan dan selalu memberi warna baru.

Perjalanan ke Lawu awal Juni kemarin pun saya berkenalan dengan bocah usia 1 tahun bernama Dinda yang hidup di ketinggian 3100+ tepatnya di pos 5 Lawu via Cemoro Sewu. Berhubung Dinda belum lancar berbicara, akhirnya saya mengobrol dengan sang ibu dan bapak. Dinda tangguh. Dari umur 4 bulan sudah hidup di ketinggian. Setelah melanjutkan perjalanan, saya berkenalan lagi dengan bocah laki-laki usia antara 3 atau 4 tahun bernama Diki. Tinggal di dekat Sendang Drajat (15 menit saja dari puncak Lawu), saya menanyainya berbagai hal dan dia menjawabnya dengan sangat antusias sambil sibuk menendang bola bututnya. Sesekali dia mengajak saya bermain bola bergantian dengan pendaki lain yang kebetulan lewat saat kami mengobrol. Satu hal yang saya pelajari dari Diki. Bermain bola di dekat jurang sama sekali tak mengurangi kebahagiaan! :’)

Ndak sabar bakal ketemu anak-anak mana lagi 🙂