A Sweet (yet wet) Escape: Trail Run Mt. Butak via Panderman


a candid yet epic ❤

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
–swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
– – menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan
[Sapardi Djoko Damono, Sihir Hujan]

Gunung Butak merupakan gunung dengan ketinggian 2.868 mpdl yang secara administratif terletak di dua kabupaten, Malang dan Blitar. Ada beberapa jalur yang bisa ditempuh untuk menuju puncak Butak, salah satunya via Panderman yang kali ini jadi pilihan saya menghabiskan hari Sabtu kemarin (3/2). Eits, meski via Panderman kita tidak harus naik Panderman dulu, melainkan basecamp Panderman dan Butak yang jadi satu di desa Toyomerto, desa terakhir sebelum pendakian.

Bersama seorang senior saya, kami berangkat dari Malang hampir jam 6 pagi dengan gerimis manja. Namun baru beberapa ratus meter tiba-tiba berubah menjadi deras. Kami memilih untuk tetap lanjut dengan harapan cuaaca semakin membaik. Beberapa saat hujan sempat mereda, kemudian deras lagi, begitu seterusnya hingga sampai Batu hujan tak kunjung reda. Mendung semakin menggelayut namun entah kenapa tidak menggentarkan niat kami (terutama saya) untuk berkenalan dengan Butak yang sudah sejak lama saya idamkan.

Sesampainya di basecamp pendakian, sudah ada beberapa motor di parkiran. Segera kami mengurus ijin di pos dengan tiket sebesar 7ribu rupiah. Setelah berganti kostum tempur dan berdoa, kami berdua memulai ‘pelarian’ ini pukul 6.22. Hujan ringan masih setia mengguyur dan kabut mulai turun.

Jalur diawali dengan jalan paving yang tak lama berubah menjadi jalan tanah dan batu dengan view kanan-kiri perkebunan sayur milik penduduk. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada 2 ekor anak anjing berwarna hitam super cute yang kemudian diikuti 2 ekor lagi di belakangnya. Empat anak anjing hitam itu mengikuti kami berdua tepat sebelum tanjakan. Jalur relatif datar di 3 km pertama hingga di km 4 muncullah tanjakan yang sepertinya dikenal dengan tanjakan PHP. Tanjakan ini lumayan panjang, di Strava saya tercatat 33 menit untuk menghabiskan tanjakan 1km dengan elevation gain 242 m.ahahahaha *lemah

Mist.

Setelah tanjakan PHP, jalur kembali banyak bonus alias relatif datar. Namun kondisi saya kemarin sudah lumayan drop kena hujan, akhirnya cuma bisa lari pelan berharap bisa maksimal 3 jam sudah sampai di sabana. Namun apa daya, saya baru menginjak sabana hampir 4 jam perjalanan.hahahahaha Sampai di sabana, cuma ada satu tenda berdiri dan satu lagi di dekat mata air. Rencana awal istirahat di sabana saya urungkan karena ingin segera menginjak puncak (sekalian biar catatan waktu ga jelek-jelek amat gitu.hihihi) Sampai sabana kurang lebih 10km.

Dari sabana ke puncak tidak butuh waktu lama. Kami memilih jalur kanan yang ternyata katanya lebih nanjak daripada jalur kiri. Memang kerasa sih, sabana sampai puncak yang tidak sampai 1 km tapi elevation gainnya masih bikin engap. Di tengah perjalanan kami bertemu beberapa pendaki yang sudah turun.

Jalur naik dan juga turun dari summit

Kurang lebih 30 menit jalan santai, akhirnya sampailah kami di puncak! Alhamdulillaaah. Kabut tebal, namun sesekali masih ada cahaya matahari yang mengintip dan lumayan menghangatkan puncak yang berkabut, hujan dan dingin. Kami rehat sebentar, ngeteh dan makan bekal pisang molen yang kadar kenikmatannya bertambah 1000%. Mungkin terdengar halu dan lebay, tapi memang itulah yang saya rasakan.hahahahahaa *aslina mah kelaparan aja, Pals

Di puncak kami hanya istirahat kurang lebih 15 menit. Sebenarnya saya masih toleran dinginnya sih, yang bikin ampun adalah anginnya yang lumayan kenceng dan bikin makin dingin. Setelah mengabadikan momen (biar ga dibilang no poto, hoax) dan menghabiskan pisang molen super nikmat, kami berdua langsung ngacir turun. Kurang lebih 10 menitan kami sudah sampai di sabana lagi dan lanjut turun. Oiya, di sabana ini sumber air melimpah. Cuma pesan saya, jangan ikutan buang sampah deket mata air yak. Sayang banget, kan jadi kotor 😦

Edelweiss di sabana Butak

Target 2 jam turun. Saya mulai bisa berlari karena jalur tinggal turunan saja.hahahaha Hujan mulai deras. Kami berdua terus menembus hujan dan lumpur sebelum badan semakin drop ditelan hujan. Sepatu Skechers saya yang baru saja dicuci setelah turun lintas Arjuno-Welirang bulan Desember kemarin mau tidak mau harus keluar masuk lumpur hingga tak berbentuk.

Akhirnya target 2 jam meleset jadi 2.5 jam. Total 6.5 jam PP Butak. Bukan catatan waktu terbaik, namun saya sudah mencoba yang terbaik dengan guyuran hujan nonstop dari berangkat sampai finish.

Bukan catatan terbaik *minta remidi XD
Terima kasih, Butak!
Advertisements

Published by

NF Palestine Turmudzy

A wanderer. A freelancer. A fulltime-dreamer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s