Tags

, , , ,


image

Judul postingan kocak sekaligus syahdu. Bagaimana tidak, terakhir kali saya melewati ini 5 tahun lalu tepatnya saat pendakian PATAKA ke 31 bulan Januari 2012 silam.
Rencana awal adalah ngetrail bareng di Pawitra dengan komunitas yang saya ikuti, Pasuruan Runners. Mendadak malam sebelum pagi keberangkatan hujan mengguyur hingga dini hari. Rencana dibatalkan, namun saya yang sejak awal punya rencana sendiri tentu saja berbeda..

Yap. Saya dan kawan Gresik Runners, Wahyu dan Elis, punya plan B yang ga kalah menantang. Ngetrel di gunung Welirang. Rencana ngetrel Pawitra yang batal makin mengompori semangat kami untuk berangkat. Saya sendiri berangkat dari Malang Sabtu siang (25/03). Sampe di perijinan Tretes sekitar pukul 4:30 sore, lanjut ‘makan siang’ yang tertunda sambil ngobrol dengan ibuk pemilik warung depan pos yang sudah hapal dengan saya 😂

FYI, keputusan saya menginap di Tretes sebenarnya belum dibarengi dengan kejelasan rencana dimana saya akan menginap lho. Sleepingbag yang selalu saya bawa hidup nomaden, kali ini ketinggalan di rumah *hahahahaa* Seperti kata ayah, saya ini terlalu nekat 😂 Di dalam bus Malang – Pandaan saya cuma mikir ‘ah, ntar coba ngrayu si ibuk warung aja lah, pasti boleh numpang di rumahnya,’ batin saya ge er. Realitanya, pas saya coba buka obrolan soal itu si ibuk menolak halus gegara di rumahnya cuma ada satu kamar yang ditempati beliau dan suaminya. Maknyos lu, Pals. Alhasil makan-siang-kesoren itu saya habiskan tanpa banyak kata lagi alias sambil mikir plan selanjutnya.
Saya coba WA kawan lama jaman SMA, Pita (yang sebenarnya sudah menikah dan saya tahu dia ga tinggal di Tretes lagi 😂) Namanya juga usaha, gengsi harus dibuang jauh. Gayung bersambut. Singkat kata, Pita berkabar dengan orang rumahnya kalo saya mau numpang nginep. Alhamdulillah, ya Allah..
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore lebih. Capcus rumah Pita yang jaraknya kurang lebih 1km saja dari pos perijinan (sebelumnya mampir toko kecil beli beberapa snack buat oleh-oleh).
Di kamus saya, apapun bisa terjadi saat melakukan perjalanan (apalagi sendirian). Tidak ada yang terlalu di’itinerary’kan. Niat, jalani, dan sedikit improvisasi.

Sambutan hangat Ciput (adik Pita) dan sang ibu sore itu sekali lagi membuat saya bersyukur karena selalu ada orang baik di setiap perjalanan. Bayangan saya sebelumnya yang bakal meringkuk kedinginan di pojokan pos perijinan akhirnya sirna sudah. Ciput berkenan membagi ranjang king size dan bed covernya yang tebal dan empuk dengan saya. Thanks, sist ☺

Hujan masih enggan berhenti sejak sore hingga Minggu dini hari..

Sebenarnya setelah sholat isya sempat merebahkan diri dan tertidur beberapa menit, namun kemudian terbangun gegara hujan yang tak kunjung reda. Hingga pukul 12 malam, mata masih enggan terpejam. Wahyu yang sepertinya juga mulai ragu, mengirim pesan pendek kalo di tempatnya (Gresik) juga masih hujan. Tapi dia berjanji bakal berangkat setelah subuh. Ah saya pasrah. Kalo Wahyu dan Elis batal, saya siap ngetrel sendiri (lagi), batin saya.

Pukul 00.30 berusaha merilekskan mata dan pikiran. Mau ngetrel tapi kurang tidur bisa-bisa jadi zombie hidup seperti saat ikut AWU 15k tahun lalu 😂 Setelah rileks sepertinya saya mulai tertidur hingga akhirnya alarm alami *baca: jadwal rutin pup* dari dalam tubuh memaksa saya melek di jam 3.28 pagi. Lumayan lah masih dapet tidur 3 jam.

Paginya, si ibuk (nya Pita & Ciput) bikinin saya segelas energen hangat sambil ngobrol ringan dan menonton ceramah pagi yang menurut saya sang penceramah agak terlalu berisik 😅
Pukul 6 saya segera pamit dan cus menuju pos perijinan kembali.

Di pos perijinan sudah banyak rombongan pendaki yang akan melakukan pendakian. Maklum, long weekend. Saya nongkrong lagi di warung si ibuk sambil packing ulang sekaligus menunggu Wahyu dan Elis yang akhirnya sampai di sana pukul 8 😂

26 Maret 2017/08.35 WIB
Eksekusi dimulai!
Setelah mendaftar di perijinan sebesar 7.500/org dan tanpa pemanasan, kami bertiga langsung tancap gas. Trek berbatu dengan tanjakan cukup curam di awal. Kuran lebih 15 menit kemudian sampailah kami di Pet Bocor alias Pos 1 yang sering dipakai untuk campcer dan ada warung yang menjual makanan serta musholla kecil. Ada juga sumber air disini tapi kalo memang belum bawa persediaan air, isi secukupnya saja karena nanti di pos 2 Kokopan *saya lebih familiar menyebutnya Kop-kopan 😂* masih ada sumber air lagi.

Pet Boco – Kokopan (2 jam)
Jalan masih menanjak berbatu dengan hutan yang masih lumayan rapat di kanan kirinya. Trek masih bisa dinikmati dengan senda gurau yang tidak akan habis diceritakan disini 😂
FYI, saya, Wahyu, dan Elis adalah kawan satu almamater, angkatan,dan jurusan. Desain Grafis Unesa. Alhasil sepanjang perjalanan berbagai topik mengalir kocak dan random.
Separuh perjalanan menjelang Kokopan, vegetasi mulai jarang dan berubah menjadi semak dan rumput tinggi. Suara air mulai terdengar.

Dua jam berlalu, Kokopan ramai pendaki. Ada juga warung yang buka Sabtu – Minggu saja. Kami bertiga mengisi ulang botol-botol kecil dan melahap pisang yang dibawa Elis. Sumber air melimpah. Mohon bijak dan berhati-hati dalam menggunakan sumber air ya, kawans.

Kokopan – Pondokan (2 jam, super santai)
Mungkin sekitar sepuluh menit rest, kami segera melanjutkan perjalanan. Pelan tapi pasti. Hingga sampailah di Tanjakan Asu 😂

– Kenapa disebut Tanjakan Asu?
+ Karena tanjakan ini lumayan (terasa) panjang (±150 meter) dengan trek berbatu dan ada menikung tajam. Dijamin melet seperti anjing (asu, dalam bahasa Jawa) saat melewati trek ini.

Untungnya beberapa meter setelah tanjakan ini jalan mulai landai. Kami bertiga rest di bebatuan dengan tanah agak lapang di kiri jalur. Wahyu dan Elis kelaparan, kusodorkan sebatang Fitbar terakhir yang saya punya. Lumayan. Tak lama muncullah dua pendaki yang sempat kami salip di tanjakan asu tadi ikut duduk dan beristirahat. Obrolan dibuka dan mencair. Mereka berdua dari Surabaya, kami dari Gresik. Kemudian dengan baik hati mereka menawarkan biskuit, dan kamipun tak kuasa menolaknya 😂😂😂
Terima kasih, mas!

Menjelang Pondokan jalan sudah banyak bonus alias cukup landai. Beberapa masih bisa diplayoni (baca: dilariin) dengan medan tanah yang landai. Vegetasi hutan pinus yang teduh dan syahdu. Ah aku rindu.

Usai melewati sebuah tanjakan kecil, akhirnya muncullah pucuk pucuk atap pondokan yang didambakan sejak tadi. Wajah sumringah saya tak dapat disembunyikan 😂 Elis yang sudah mulai halu berharap ada penjual mi diatas dan Wahyu yang menggebu naik hingga Pondokan.
Sampailah kitaaa~

image

Kangen bangeeet

Dan kehaluan Elis ternyata terbukti. Sekarang di Pondokan sudah ada warung juga yang menyediakan nasi bungkus, mi instan, gorengan, madu, rokok hingga pocari sweat bubuk 😂 Duh, sudah terlalu lama saya ga nengok kesini sih. Kami bertiga pun kompak memesan mi instan kuah yang nikmatnya level surga ditemani tahu isi yang tak kalah amazing nikmatnya.

Oiya, disini kami juga bertemu seorang trailrunner dari Surabaya yang berangkat dua jam sebelum kami. Namanya mas Dio (ato Dilo yah? saya lupa 😂) Pas kami nyampe Pondokan, dia sudah rehat usai summit katanya. Buset dah.
Sebenarnya pengen summit juga, tapi apa daya takut kesorean gegara start kesiangan. Lain waktu saja lah diagendakan lagi. Toh Welirang ga akan kemana-mana kan.

Pukul 13.35 kami memutuskan untuk kembali. Kabut mulai turun. Hujan sepertinya tak lama lagi. Waktunya menari, beibeeeh.
Saat turun adalah saat yang sangat saya dambakan, impikan, dan nantikan 😂 Karena bisa lari dan genjot performa namun tetap meperhatikan pijakan, konsentrasi dan kondisi tubuh ya. Tapi saya ga berani ngebut soalnya Elis lumayan tertinggal di belakang Wahyu menahan dingin (padahal di Pondokan, dia yang paling banyak ngabisin gorengan 😂)

Menjelang Kokopan, hujan turun. Wahyu dan Elis ga bawa mantel. Pinter kan. Sebenarnya walopun bawa, saya males pake mantel soalnya berisik dan mengurangi kebebasan melangkah. Tapi berhubung saya yang bawa gadget dan dompet kami bertiga, mau ga mau harus pake mantel. Ya kali lebih sayang gadget daripada dirinya sendiri 😂😂😂

Kokopan sampe perijinan terasa lama dan tak kunjung sampai. Sepertinya kami mulai lelai diguyur hujan. Total waktu 3 jam, hanya selisih 1 jam dari keberangkatan. Harusnya masih bisa digenjot jadi 2 jam saja.
Lain kali remidi yaaa~

image

Advertisements