Mencumbu Kabut Latar Ombo, Gn. Panderman


img20170207085050-01
Hanya saya, Tuhan, si hijau merrell dan pinus yang berbisik

Yang fana adalah waktu. Kita abadi..”

(Sapardi Djoko Damono)

Waktu menunjukkan pukul 06.34 WIB pagi tadi saat kaki menginjakkan langkah menuju satu tempat yang terpikir dadakan tadi malam; Gunung Panderman. Packing logistik seadanya; baju ganti, roti dan air mineral. Semua serba dadakan hingga dengan nekat saya berangkat tanpa bawa jas hujan padahal lagi puncak musim hujan *jangan ditiru!

Berangkat naik angkot AL menuju Landungsari, melaju pasti sambil ditemani hujan rintik dan pelangi. Subhanallah. Sebenarnya nyali sudah agak ciut melihat kondisi cuaca kota Batu tadi pagi yang berselimut mendung hitam dan gerimis rapat. Tapi entah kenapa ga terpikirkan sama sekali untuk balik kanan grak alias pulang. Sampai Landungsari oper angkot BL menuju kota Batu (angkotnya warna ungu, naik yang ngetem depan terminal Landungsari, jangan masuk terminal). Turun di pertigaan Batos (sebelum belok ke Terminal Batu) jalan kaki ke arah kota sambil mencari ojek. Tak berselang lama ada ojek yang menawari. Setelah nego harga didapatlah angka 7ribu rupiah tapi saya hanya diantar sampai tanjakan entah dimana itu yang pasti masih sekitar 3km sebelum pos perijinan yang terletak di desa Toyomerto (kalo sampe perijinan kayaknya sekitar 10-15 ribu). Bodohnya saya yang ngojek tanpa melihat motor pak ojeknya lebih dulu. Jadi si bapak itu tadi pake motor Honda Astrea th 97. Pantes beliau ga mau nganter sampe perijinan *kan bodoh kan saya* Akhirnya mau ga mau saya jalan kaki di tengah hujan yang lumayan deras. Dan lagi lagi entah kenapa saya ga kepikiran untuk balik kanan dan turun pulang!

Baru berjalan beberapa meter saya sudah ngos-ngosan. Trek menanjak curam, aspal pula. Dua ratus meter kemudian hujan mulai agak deras, saya menepi di bawah pohon dengan otak yang sudah ga bisa mikir apa-apa. Tolah toleh. Sumpah kalo ingat tadi pagi saya jadi mbatin, kok bisa senekat ini bela-belain naik gunung padahal hujan. Utekku pedot! Di tengah kekaklutan itu, tiba-tiba ada bapak paruh baya naik motor langsung menepi dan menawari saya tumpangan. Dan entah kenapa lagi dengan gedeknya saya langsung ngangguk dan duduk nebeng di belakang si bapak. Pasrah. Sumpah error. Anggap saja rejeki anak sholehah ato doa orang yang teraniaya ya? *sepertinya pilihan kedua yang lebih tepat.haha* Tapi kalo diingat-ingat lagi sih, selama kita baik dengan orang, maka selalu ada orang baik pula yang akan menolong kita dimanapun. *jadi inget pengalaman 6 tahun silam pas solo backpacking ke Lombok.hehe*

Di tengah perjalanan kami ngobrol ringan. Hujan lumayan deras. Si bapak ramah sekali sekaligus agak terkaget saat mengetahui saya bakal naik sendirian. “Udan-udan ngene, mbak. Angine pisan banter..” (“Hujan-hujan gini, mbak. Anginnya juga kencang..”) tukasnya. Saya hanya tersenyum simpul dan berusaha menenangkan si bapak dengan jurus, “Nggeh, engken lek cuacane tambah buruk kulo langsung mudun, pak..” (Ya, nanti kalau cuacanya makin buruk, saya langsung turun, pak..) jawabku cengengesan padahal sebenernya mikir juga sih.

Sampai di perijinan pukul 8 kurang beberapa menit. Ada seorang bapak-bapak yang berjaga. Mungkin heran melihat saya sendirian, hujan-hujan pula mau naik gunung. Hujan makin deras. Pikiran makin kalut tapi masih belum terpikir juga untuk pulang. Alhasil berteduh di pos perijinan sambil merapikan packingan yang masih amburadul. Usai packing singkat (soalnya cuma bawa hydrobag doang), pandangan menerawang sambil meratapi diri. Tiba-tiba dari jalur pendakian muncul dua mas-mas yang baru turun. Interogasi. Ternyata diatas sepi. Ada beberapa pendaki tapi sepertinya ke arah Buthak, kata mereka. Okeh saya semakin pasrah. Kalau hujan masih deras sampe lama saya akan turun pulang alias ga jadi naik. Namun selang 10 atau 15 menit, hujan mulai reda. Ternyata Gusti Allah masih mengizinkan saya! Yah walaupun mendung masih menggantung, saya memantapkan diri untuk naik. Membayar tiket masuk seharga 7ribu (padahal loket tutup, jadi saya bayar aja ke bapak yang jaga di pos sebagai tanda saya bukan pengunjung ilegal) saya langsung pamit berangkat ke 2 orang mas-mas tadi yang sepertinya memandang saya kagum dan salut tidak ingin berpisah cepat *oposeh, Paaals*

Start pukul 8.08, seingat saya. Cek cuaca mendung biasa, ga ada petir, jadi saya beranikan diri menyalakan GPS hape dan tracking rute pake Strava. Bismillaaah.

Ah, aku rindu saat-saat seperti ini.

Saat-saat berjalan sendirian menapaki jalur pendakian. Mencium aroma pinus dan udara yang bercampur menjadi energi baru melanjutkan hidup *tsaaaah sedaap*

Melakukan perjalanan sendirian menurut saya sebagai wanita juga penting. Karena melatih kemampuan kita untuk survive menghadapi segala kemungkinan. Solo backpacking juga membuat kita lebih meresapi perjalanan dan lebih peka terhadap keadaan sekitar sehingga makna perjalanan terasa lebih dalam dan berharga.

img20170207082240-01
Aseeek muka semua *plaak*

Sebenarnya di tengah perjalanan tadi sempet ngeri-ngeri sedap melihat kabut yang semakin turun dan suara hujan deras di atas. Tapi langkah kaki saya memaksa untuk paling tidak sampai di pos pertama, Latar Ombo. Saat tanya mas-mas di bawah tadi, waktu yang dibutuhkan dari perijinan sampai pos Latar Ombo cuma 30 menit karena si mas-mas tersebut sudah sering kesitu. Ternyata saya bisa 3 menit lebih cepat dari perkiraan waktu si masnya *hehehe* Yap. 27 menit berjalan saya sampai di pos Latar Ombo yang sepertinya cukup menampung 20an tenda.

img20170207083758
Pos Latar Ombo 1600 mdpl

Mencintai angin harus menjadi siut..
Mencintai air harus menjadi ricik..
Mencintai gunung harus menjadi terjal..
Mencintai api harus menjadi jilat..
Mencintai cakrawala harus menebas jarak..
MencintaiMu harus menjadi aku.

(Sapardi Djoko Damono, Sajak kecil tentang cinta)

Sampai disini, poto-poto biar ga dikata hoax *korban kekinian* kabut tebal, angin kencang. Serem. Mau lanjut sampe puncak takutnya di atas hujan deres. Bukannya apa, saya ga bawa jas hujan. Fatal. Khawatir juga angin gede, kabut trus nyasar. Mana sendirian pulak. Jadi daripada ambil resiko yang terlalu besar, mengingat tanggungan deadline saya masih banyak *huaaa* saya memutuskan langsung turun. Puncak ga kemana juga kan ya.

img20170207083848-01
Biar ga dikata hoax :p

Biasanya waktu turun lebih cepat dari naik. Tapi ini tadi waktu turun hampir sama dengan waktu naik. Gimana enggak, turun pelan-pelan takut kepleset masuk jurang! Sekali lagi, saya sendirian *huaaaa* Iya, licin banget apalagi hujan kan. Jadi saya jalan santai sambil sesekali poto lagi. Jarang-jarang nih. Biarin norak yang penting jomblo *ngenes amat lu, Paaals*

strava
Result pake Strava (tampilan web)
img20170207084657-01
Selfie pas pulaaang

Sampe perijinan lari-lari kecil buat ngebulatin angka biar jadi 5km soalnya nanggung banget nyampe perijinan cuma dapet 4.7km. Setelah dapet angka 5km, cus kamar mandi basuh badan biar ga bau di angkot dan ganti baju. Bawa pisang rebus 4 biji dari rumah kemaren, saya kasih ke pak tukang yang ngerjakan kamar mandi di parkiran *hahahaha rejeki si bapak* Pas mau turun, pasang muka gedek lagi minta ojekin si bapak yang jaga parkiran. Lha mau gimana lagi, hujan ga ada ojek yang mangkal disitu (biasanya ada) tarif 10ribu sampe gerbang masuk wisata Panderman, sepertinya. Akhirnya dianter si bapak sampe pertigaan tempat saya nyegat angkot. Alhamdulillaaah. Lima belas ribu ongkos sukarela yang saya berikan. Semoga ga kurang ya, pak *hahahahaa*

Di perjalanan angkot Batu-Landungsari waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Cuaca mulai cerah, tapi Panderman masih mendung walau ga segelap sebelumnya. Ahahahaha tak apalah. Kapan-kapan saya balik lagi!

P.S.: Oiya tambahan ya. Jalur pendakian Panderman ini relatif aman sih buat cewek walaupun sendirian seperti saya. Tapi tetep harus waspada dan manajemen ga boleh asal-asalan. Satu lagi, kalo sendirian lebih baik lakukan pendakian di hari Sabtu atau Minggu menghindari jalur yang terlalu sepi. Anyway, jangan takut berjalan sendiri!

Advertisements

Published by

NF Palestine Turmudzy

A wanderer. A freelancer. A fulltime-dreamer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s