Tags

, , ,


image

Cover album Sinestesia

Biar blog saya ndak melulu soal ngluyur dan nggembel, sekali-kali review musik kegemaran boleh ya 😊

Efek Rumah Kaca; band favorit sejak saya masih duduk di bangku biru-putih alias SMP (awal 2007) sampe sekarang sudah 3 thn lulus kuliah kurang lebih 9 thn ya. What?! Sumpah saya baru ngeh kalo sudah berlalu 9 thn aja 😂😰 Lagu pertama ERK yang saya kenal dari channel musik paling hits masa itu; MTv, yaitu Kenakalan Remaja di Era Informatika. Pertama kali membaca judul dan mendengar lagunya, ‘Wah, keren nih’ Sejak saat itu saya semakin gemar mendengarkan lagu-lagu band indie yang tema dan musiknya selalu antimainstream.

Kembali ke judul postingan ini, sebenarnya album ini sudah agak lama sih, akhir taun kemarin tapi baru sempet dengerin baru-baru ini. Ampun.

Apa sih Sinestesia?

Menurut KBBI,
Sinestesia
/si·nes·te·sia/ /sinéstésia/n Ling: Metafora berupa ungkapan yang bersangkutan dengan indra yang dipakai untuk objek atau konsep tertentu, biasanya disangkutkan dengan indra lain, misalnya sayur itu pedas untuk kata-kata sangat pedas.

Jadi arti album ini apa?
Menurut saya, dengarkan saja musik dan liriknya kemudian resapi maknanya dengan cara mengkorelasikannya pada judul tiap lagu yang berupa warna-warni nanti pasti kalian paham dengan sendirinya 😂 *bingung nulisnya darimana, kakaaa*

Berikut tracklist album Sinestesia:
1. Merah (Ilmu Politik / Lara di Mana-mana / Ada-ada Saja)
2. Biru (Pasar Bisa Diciptakan / Cipta Bisa Dipasarkan)
3. Jingga (Hilang / Nyala Tak Terperi / Cahaya, Ayo Berdansa)
4. Hijau (Keracunan Omong Kosong / Cara Pengolahan Sampah)
5. Putih (Tiada / Ada)
6. Kuning (Keberagamaan / Keberagaman

Sebelumnya, review ini murni berdasarkan opini pribadi saya sebagai pemilik blog sekaligus penikmat dan fans Efek Rumah Kaca ya.

Hmm.. sesungguhnya bukan hal yang mudah mereview album ERK kali ini. Album yang berat namun tetap dengan dibalut dengan musik ringan dan menyenangkan tanpa mengurangi dalamnya lirik dan pesan yang berusaha disampaikan.

Dibuka dengan judul Merah (Ilmu Politik / Lara Dimana-mana / Ada-ada Saja). Durasinya cukup panjang, 11 menit, namun terdiri dari 3 lagu yang dimainkan secara estafet tapi musiknya masih nyambung (istilahnya apa ya? 😂) Pokonya kalo kata saya, ini modelnya mirip seperti salah satu lagu Green Day di album American Idiot berjudul Jesus of Suburbia dengan durasi terpanjang masa itu; 14menit. Jadi dalam 1 lagu itu ada 5 lagu; Jesus of Suburbia – City of the Damned – I Don’t Care – Dearly Beloved – Tales From Another Broken Home. Kembali ke ERK, nah, di lagu Merah ini ERK menghadirkan 3 judul sekaligus. Untuk lirik, jangan diragukan lagi. Lugas dan mengena. Gebukan drum om Akbar di awal membangkitkan semangat penikmat musik. Disini musik mereka juga semakin kaya dan kompleks. *beuh. udah macam Ian Antono belum saya?*

Track kedua; Biru (Pasar Bisa Diciptakan / Cipta Bisa Dipasarkan). Hmm.. di lagu ini petikan gitar bass dan gebukan drumnya agak membuat saya seperti mendengarkan lagu Two Door Cinema Club. Bukan maksud membandingkan sih, tapi jujur di beberapa bagian emang musiknya bikin saya inget musiknya TDCC. Coba dengarkan lagu TDCC yang berjudul Handshake (album Beacon) kemudian dengarkan lagu ERK yang ini. Duh, saya kok jadi membandingkan gini ya? Tapi ndak maksud gitu kok, hanya berniat share dan menambah referensi pembaca. Yang paling saya suka adalah sentuhan harmonika di akhir lagu ini. Entah ya, pokonya lagu kalo ada harmonikanya itu emosinya dapet banget, menurut saya. Ini masuk lagu favorit saya di album ini.

Jingga (Hilang / Nyala Tak Terperi / Cahaya, Ayo Berdansa) menjadi track ketiga di album ini sekaligus yang terpanjang dengan durasi 13:28. Nuansa musik yang ‘gelap’ ditambah suara vokal latar menambah atmosfer yang kuat selain lirik. Apalagi saat daftar nama aktivis yang hilang disebutkan satu persatu hingga Widji Tukul. Ditutup dengan dentingan piano. Sendu.

Berikutnya lagu paling saya gemari di album ini; Hijau (Keracunan Omong Kosong / Cara Pengolahan Sampah) Lagu dengan musik paling ceria dan muda namun tanpa melupakan pesan ironi masyarakat saat ini. Di bagian judul kedua; Cara Pengolahan Sampah, sederhana namun berkualitas. Jempol.

Lagu berikutnya adalah yang paling bikin saya merinding; Putih (Tiada / Ada).
Berikut lirik di bagian judul Tiada (untuk Adi Amir Zainun)

Saat kematian datang
Aku berbaring dalam mobil ambulan,
Dengar, pembicaraan tentang pemakaman
Dan takdirku menjelang
Sirene berlarian bersahut-sahutan
Tegang, membuka jalan menuju tuhan
Akhirnya aku usai jugaSaat berkunjung ke rumah,
Menengok ke kamar ke ruang tengah
Hangat, menghirup bau masakan kesukaan
Dan tahlilan dimulai
Doa bertaburan terkadang tangis terdengar
Akupun ikut tersedu sedan
Akhirnya aku usai juga

Deskripsi yang sederhana namun lugas membuat kita menerawang dalam-dalam.

Track terakhir; Kuning (Keberagaman / Keberagaman). Ada sedikit intro lagu ERK terdahulu (namun saya lupa yang mana. nanti segera diedit setelah bongkar album lama 😁) Lagu ini sangat tepat ditaruh paling akhir, mengingat isinya adalah kesimpulan dari pesan lagu-lagu sebelumnya. Yang unik di akhir lagu ini (setelah saya nyontek di website efekrumahkaca.net) ada suara sekelompok manusia yang sedang melakukan tari Leleng oleh Suku Dayak Kenyah, Samarinda. Sebenarnya ingin menulis lebih banyak tentang lagu terakhir yang menurut saya sangat dalam maknanya. Namun saya meragukan kemampuan saya berfilosofi, takut salah malah jadi SARA. Dengar dan resapi sendiri saja ya ☺

Salah satu penggalan liriknya (yang digambarkan menurut kepercayaan yang kami anut):

Semua dihisabnya, sebab akibatnya
Bila matahari sepenggal jaraknya
Padang yang luas tak ada batasnya
Berarak beriringan
Berseru dan menyebut.. Dia..

Sinestesia merupakan album penantian panjang setelah 7 tahun lamanya. Direkam sejak Desember 2009 sampai November 2015 di Pendulum studio, Black studio, Soundmate studio dan Als studio (sumber: efekrumahkaca.net)
Harus didengar dan diraba!

image

(credit: wearedisorder.net)

Advertisements