Bromo Marathon 2015: My 1st 10K Race


website bromar
official website Bromo Marathon 2015 🙂

Satu kata saja untuk tadi pagi; Mengagumkan.
Kata-kata yang pas, tidak muluk-muluk bagi saya yang masih newbie. Hobi lari dari jaman sekolah memang, tapi baru kali ini ikutan event lari sesungguhnya.

Berawal dari tiket dengan harga early bird di bulan Maret, akhirnya mengantarkan saya ke satu event keren tahun ini..

pagelaran masyarakat Tosari di lapangan Ledok
pagelaran masyarakat Tosari di lapangan Ledok

Matahari sudah bergeser dari atas ubun-ubun saat mobil yang dikendarai pak Johan memarkir mobil di jalanan depan venue lari esok. Saya dan mas Fred *ya, memang cuma kami berdua jemputan terakhir sore itu* yang dijemput dari bandara usai penerbangan dari Jakarta langsung menuju loket pengambilan racepack dan naik ke stage untuk sekedar berfoto sebelum besok harus mengantri disini :p

rembes pol xD
rembes pol xD *tasnya mas obenk nampang euy :D*

Usai beberapa jepretan dekil yang dibantu oleh mas Fred, kami langsung berpisah *ttssaaaah*. Mas Fred yang sudah booking homestay sebenarnya ngajak saya ikutan dia sambil nyari homestay buat saya, tapi saya tolak. “Mau liat-liat sikon dulu, mas” pamit saya sok tegar. Akhirnya dengan berat beliau meninggalkan saya sendirian kemudian menumpang pick up panitia yang akan mengantarnya menuju homestay.

‘Wohooo saya siap, Tosari!’ teriak saya dalam hati.

Jadilah saya ikut nimbrung di kerumunan manusia yang sejak kedatangan menarik perhatian. Entah pagelaran apa namanya saya lupa tidak menanyakan pada penduduk sekitar. Sempat ngobrol sih, tapi cuma sekedar menyapa sambil menanyakan mungkin saja mereka ada yang bersedia menampung saya malam nanti.

Usai beberapa usaha belum membuahkan hasil, saya memutuskan ke masjid yang terlihat jelas dari lapangan yang letaknya lebih rendah. Yah, walaupun sedang berhalangan sholat, masjid jadi tempat paling menenangkan sambil menumpang di kamar kecil untuk sekedar bebersih. ‘Kalo malam ini fix ga dapat tumpangan, masih ada teras masjid untuk menggelar sleeping bag,’ batin saya.

Bersih-bersih sudah, saya memutuskan untuk turun dan melihat-lihat lagi. Kerumunan di lapangan ternyata sudah bersiap bubar. Acara sudah selesai, kata seorang disamping saya. Entah kenapa kaki saya mengajak berbelok masuk ke sebuah toko di samping lapangan yang jadi venue besok. Dengan dalih membeli sebotol susu rasa melon yang akhirnya menjadi pembuka obrolan saya dengan sang ibu pemilik warung.

Saya: Buk, griyone njenengan sek kosong ta? kulo pados penginapan tapi budget kulo terbatas. Mek 100, buk..
Ibuk: Ndek omah onok, mbak. bla bla bla
Saya: Pinten biasane tarife, buk?
Ibuk: 300, mbak. Tapi lek sampean duwene sakmunu yo gak papa. Nko tilem karo anakku wedok ngarep tivi, mbak. Kamar mandi air hangat lengkap.
Saya: Fiuuuuh akhirnyaaa xD

Usai kesepakatan, saya duduk-duduk depan toko bu Inah sambil berbincang kemudian datanglah Nafis, putri buk Inah yang tadi sempat beliau ceritakan. Tak berapa lama, saya pamit masuk ke rumah ditemani Nafis dan menanyakana ini-itu yang menarik di dalam rumahnya yang terbilang cukup luas.

krupuk+sambel cocolan bikinan buk Inah yang endesss :3
krupuk+sambel cocolan bikinan buk Inah yang endesss :3
racepack kece :D
racepack kece 😀

 

Malamnya, saya dibonceng Nafis untuk mencari makan malam dibawah. Dengan antrian yang cukup lama mengingat peserta memang sudah pada berkumpul, akhirnya seporsi nasi goreng dengan suwiran daging ayam dibungkus untuk dimakan di rumah nanti. Alhamdulillah nikmat 🙂

Usai menghabiskan nasi goreng yang nikmat tiada tara itu, saya masuk ke rumah dan ngobrol dengan beberapa tamu dari Jakarta yang juga menginap di rumah buk Inah dan kebetulan sama dengan saya, jarak 10K dan satu lagi mas-mas HM. Pukul 9 kurang mereka pamit masuk ke kamar dan saya pun ingin segera masuk kedalam sleeping bag. Sebenarnya sudah ada kasur lengkap dengan selimut, bantal dan boneka Nafis sih. Tapi saya ndak mau rugi dong sudah jauh-jauh bawa sleeping bag yang tadinya disiapkan untuk kemungkinan terburuk ga dapat tumpangan :p

Kira-kira pukul 21.45 mata saya mulai berat dan bergantian televisi yang menonton kami tidur..


 

Selamat pagi, Tosari :*
Selamat pagi, Tosari :*

Selamat pagi, Tosariiii!

Walaupun berhalangan sholat, saya bangun jam setengah 5. Penghuni rumah lainnya masih tertidur pulas kecuali buk Inah yang bersiap untuk berjualan nasi di SD. Usai mandi air hangat, buk Inah membuatkan teh hangat lengkap dengan roti untuk sekedar mengganjal perut sebelum race. (Btw, belakangan baru tau kalo malam sebelum race harus carbo-loading dulu xD)

Pukul 6.30 saya menuju garis start sendirian. Pagi itu acara dibuka oleh bupati Pasuruan; Gus Ipul, yang ditandai dengan tembakan pertama melepas peserta FM (Full Marathon). Kurang lebih 150 peserta. Woohooo saya merinding.

GUs Ipul kliatan tangan doang xD
Gus Ipul kliatan punggung doang xD
Start - Finish Gate
Start – Finish Gate

Pukul 7.00 giliran peserta HM (Half Marathon) yang berjumlah sekitar 500 orang lebih. Saya yang berusaha untuk tidak kebelet apapun karena setenga jam lagi start, akhirnya harus menyerah dan balik pulang ke rumah buk Inah untuk buang air kecil. Ternyata sudah ada beberapa pelari juga yang numpang disana.haha

Here we come.

7.30. Saatnya untuk start 10K!
Jarak ini paling banyak pesertanya, sekitar 600 orang. Jadi saya ngga ngoyo saat tembakan sudah dilepas karena mau ga mau memang harus antri untuk melangkah. Baru beberapa ratus meter sebelum tanjakan, antrian terurai perlahan. Pada ngacir aja dah tuh.

Bromo Marathon 10K Route Map
Bromo Marathon 10K Route Map

Kurang lebih itulah gambaran lintasan yang saya lalui. Start jalan datar kemudian agak turun kurang lebih 500 meter, sebelum kemudian dihajar tanjakan tanpa ampun. Jalan masih beraspal namun bolong sana-sini. Di kilometer pertama, pelari, jeep, hingga para fotografer peseta lomba fotografi mengendarai motor pun berbondong memenuhi jalan. Aduh Tuhan.. Beri kami jalaaaan 😦

Jujur di awal tadi agak semrawut. Untunglah usai kilometer kedua berangsur lancar dan saya masih kuat berlari walau diselingi jalan kaki sedikit menghela napas. Maklum newbie, kakaaak :p

tanjakan kampret pertama :p
tanjakan kampret pertama. tuh udah pada jalan aja kan :p
view rumah penduduk dari atas. menarik!
view rumah penduduk dari atas. menarik!

Di tengah tanjakan kampret ini, sempet nemu bapak-bapak yang maenin alat musik khas yang bunyinya juga khas dan mengiringi kami lari. Berasa lari di kawinan gitu deh.hihi

run with ethnomusic :D
run with ethnomusic 😀

Menuju km 3 ini ada WS. Tanpa pikir panjang saya ambil air mineral dalam gelas namun ternyata saya masih belum haus. Akhirnya saya minum sedikit dan sisanya buat cuci tangan. Sampah saya masukkan tas kecil slempang karena saya ngga nemu tempat sampah di sepanjang trek dengan kebun terhampar luas di kanan kiri. Btw, membawa tas slempang ternyata cukup merepotkan dan mengganggu lari saya -_-‘

sedikit jalur 'trail' jarak 10K :p
sedikit jalur ‘trail’ jarak 10K :p
mbak-mbak bule yang nanti muncul di akhir cerita :D
mbak-mbak bule yang nanti muncul di akhir cerita 😀

Di antara km 5 dan 6 ada WS kedua. Namun saya tidak mengambil minum karena pengen cepet-cepet finish.hihi Alhamdulillah memasuki km 6 tanjakan sudah berkurang dan memasuki pemukiman padat penduduk. View dari atas subhanallah sekali.

Sepanjang trek saya selingi jalan kaki saat lelah dan menikmati trek maupun view Tosari. Di kilometer 8, tiba-tiba seorang peseta fotografer wanita mengejutkan saya. Ternyata Titis, kawan SD sekaligus komunitas petualang di daerah kami. Alhamdulillah saya kena jepret walopun cuma punggung :v

Melanjutkan lari, tiba-tiba ada seorang mas-mas yang menyalip saya menyapa ramah kemudian ngobrol singkat sekedar berkenalan. Dia agak terkejut mendengar saya berangkat dan lari sendiri.Hihi sudah biasaaa 😀

Oiya, di perjalanan ketemu beberapa barisan adik-adik SD yang menyemangati pelari sambil mengibarkan bendera Indonesia dan bermacam-macam negara. What a moodbooster 🙂

merdeka!
semangat, kakaaak 😀
ayo ayo ayo!
ayo ayo ayo!
yang gedean agak malu-malu.hihi
yang gedean agak malu-malu.hihi
beberapa potret penduduk Tosari :)
beberapa potret penduduk Tosari 🙂
sempet motret ibuk jualan di pasar yang kami lewati :)
sempet motret ibuk jualan di pasar yang kami lewati 🙂

Sampai di entah kilometer berapa itu, saya bertanya kepada mbak-mbak marshall yang membawa beberapa air mineral tapi bukan WS, “masih jauh gak, mbak?”. “Satu kilometer lagi, kak” jawab mereka sambil kemudian menyemangati saya. Yeah saya langsung tancap gas semangat membayangkan garis finish tak jauh lagi.

Ternyata eh ternyata, di 500meter terakhir saya merasa sangat cape dan berhenti sambil membungkukkan badan sebentar *seperti rehat pas mendaki gunung saja ya xD*. Namun tiba-tiba ada satu peserta bule wanita yang sejak tadi di depan saya kemudian sempat saya salip menyemangati kalo finish sebentar lagi. “come on, miss”, ujarnya. Gak jadi mandek langsung tancap gas lagi, kakaaak. Kaki saya paks sedemikian rupa hingga akhirnya pas banget nginjak garis finish, betis rasanya mlintir dan kram. Entahlah, tapi seingat saya pose saya di garis finish bukan pose yang keren pokonya.hihi Akhirnya mbal-mbak bule volunteer memberi saya medali pertama saya yang super keren dan mencontreng kotak medal di bib 1944 saya. Alhamdulillaaah

Baru kerasa kalo kram, saya langsung ambruk duduk di dekat meja refreshment yang penuh dengan pisang ambon favorit saya. Nikmatnya. Untung kram hanya beberapa menit, saya sudah bisa berjalan dan langsung ngantri poto di panggung dong :p

antara tegang, capek, dan bahagiaaa
antara tegang, capek, dan bahagiaaa
bukan merk terkenal; Topper. satu-satunya partner dekil in run :*
bukan merk terkenal; Topper. satu-satunya partner dekil in run :*
medali pertama di bidang lelarian :')
medali kece pertama di bidang lelarian :’)

Secara keseluruhan, menurut saya yang awam dan newbie, event internasional ini sudah bagus. Hanya satu yang disayangkan, yaitu kurangnya penyediaan tempat sampah di jalur race. Semoga tahun depan bisa berbenah 🙂

Race pertama saya sangat berkesan. Daftar sendiri, berangkat sendiri, lari sendiri, nyari penginapan sendiri, pulangpun sendiri. Namun saya bersyukur walau sendiri, saya bertemu dengan orang-orang baik di sepanjang perjalanan yang memberi pengalaman dan cerita baru.

keponakan buk Inah. duh, lupa namanya :(
keponakan buk Inah. duh, lupa namanya 😦
balik lagi ya, kak :)
balik lagi ya, kak 🙂

Saya siap untuk race berikutnya!

 

P.S.: Ada satu hal lagi yang sangat disayangkan yaitu gak punya foto bareng buk Inah dan Nafis! Pas mau pulang sempet saya ajak sih, tapi buk Inahnya malu-malu ndak mau diajak foto. Padahal saya udah mandi cantik lho 😦 Tapi suatu saat saya pasti bisa kesini lagi!

race result bromar
hasilnya nanggung xD
Advertisements

Published by

NF Palestine Turmudzy

A wanderer. A freelancer. A fulltime-dreamer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s