Tags

, , ,


Waktunya wisata sejarah lagiii 😀

image

sudut Candi Dermo dari sisi kanan


Setelah terakhir wisata sejarah (iseng-iseng berhadiah) di Candi GunungGangsir Idul Fitri kemarin, pagi tadi saya dan mas Obenk kembali meluncur mengunjungi salah satu situs peninggalan Majapahit; Candi Dermo.

Sekitar pukul setengah 10 pagi, kami berangkat dari stasiun Tanggulangin. Bukan. Kami bukan naik kereta api, hanya saja stasiun ini menjadi meeting point favorit saya 😀
Bbbrrmmm.. Sukro sang Supr* tangguh yang sudah teruji ketangguhannya di segala medan *digeplak*

Perjalanan dari Tanggulangin sampai Wonoayu kurang lebih 21 km melewati area persawahan luas menghijau dengan background Arjuno-Welirang serta Penanggungan malu-malu menyembul di balik awan. Sekitar pukul 10.30 kami sampai di Dusun Dermo, Desa Candi Negoro, Kec. Wonoayu, Kab. Sidoarjo.

image

Bangunan candi, plakat, juru kunci, mas Obenk dan Sukro. Komplit :3

Candi Dermo memiliki panjang dan lebar 6×6 m dengan tinggi 13.5 m. Luas area keseluruhan kurang lebih hanya 15 x 15 m di tengah himpitan kuburan dan rumah penduduk.

Secara arsitektur, Candi Dermo berbentuk gapura paduraksa yakni gapura yang bagian atasnya terdapat atap. Bangunan terbuat dari batu bata khas Majapahit (dengan pugaran disana sini pastinya). Pintu gapura candi menghadap barat dan timur dengan kondisi tanah yang hancur.
image

Berdasarkan model bangunannya, para ahli kepurbakalaan memperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-14. Kira-kira pada masa pemerintahan Raja Brawijaya. Mengenai siapa yang membangun candi ini memang masih belum ada sumber yang menyebutkan dengan pasti, tapi kita sebagai generasi penerus sudah semestinya menjaga dan merawatnya. Selamat mengeksplor!

image

don't stop your step!

NB: FYI, kata bapak juru kunci, candi Dermo bakal dipugar kembali tanggal 14 April besok.
Semoga pemugarannya ndak asal-asalan ya, pak!

Advertisements