Tags

, ,


image

Arjuno-Welirang dipeluk awan

Untuk kesekian kalinya, Pawitra selalu menjadi favorit. Gunung ‘mungil’ yang jalurnya tidak main-main bahkan untuk jalur Tamiajeng yang terkenal paling populer dan terbilang ‘paling mudah’ dari jalur yang lain seperti Jolotundo maupun Kunjoro Wesi.

Usai santap sarapan dengan rawon nikmat dekat sekolah menengah pertama tempat ayah mengajar, kami bertiga (saya, mas Obenk dan Sukro) bergeser menuju titik awal ‘jalan-jalan’ di Penanggungan. Sampai di warung Buk Indah Tamiajeng sekitar pukul 8, kami melepas kangen dan berbincang sebentar dengan Pak Gun (petugas Tahura sekaligus kakak Buk Indah). Dan selalu, tiap kami datang Buk Indah selalu bertanya sambil tersenyum: “sampean wes resmi a, dek?” yang kemudian selalu saya jawab; “pendungane, buk :)” Duh, ibuk satu ini memang perhatian sekali. Maklum, kami sudah saling kenal kurang lebih 4 tahun ini.

Seperti biasa, saya yang semakin sulit mendapat ijin orang tua untuk sekedar melepas rindu dengan tanah tinggi hanya bisa menikmati Pawitra dengan tektok (perjalanan pergi-pulang sekaligus tanpa camp). Yah, walaupun begitu saya tetap menikmati tiap tanjakannya yang selalu gagah menyambut.

Setelah mendaftar dengan tiket seharga 8ribu rupiah di pos perijinan yang baru berdiri hampir satu tahun ini, saya dan mas Obenk start pukul 08.23 WIB *Sukro lebih milih diam di parkiran :’>*

Bismillah..

Trek awal Penanggungan merupakan jalan lebar berbatu yang cukup panjang sebelum digempur tanjakan sampai puncak bayangan.

image

semangat, pak semut! :3

Terakhir kesini bulan April tahun kemarin. Yang jadi perhatian saya adalah jalurnya yang membuat saya pangling. Beberapa jalur sampai harus dicangkul oleh pengelola setempat membentuk anak tangga selain karena musim hujan yang licin juga karena semakin banyaknya pendaki naik turun menggempur jalur. Selain itu, entah kenapa jalur juga semakin lebar dan bercabang. Kalo menurut saya sih mungkin lebih baik pengelola yang bersangkutan bisa menertibkan untuk mengurangi resiko nyasar atau salah jalur.

image

pangling ._.

10.43 WIB
Puncak bayangan. Awalnya sih ingin mencumbu puncak. Maklum, sudah lama sekali belum menengok puncaknya lagi. Tapi waktu yang mepet karena mas Obenk masih harus masuk shift malam lagi, memaksa kami untuk mengurungkan niat kami.

image

tempat main kami, halaman belakang rumah :')

11.19 WIB
Usai menunggu mas Obenk memejamkan mata sejenak menghilangkan rasa kantuk usai shift tadi pagi, kami berangkat turun. Perjalanan turun tidak begitu menguras energi seperti saat naik namun butuh konsentrasi lebih mengingat jalurnya yang licin. Sepanjang perjalanan saya dan mas Obenk ngobrol dengan jarak ±10meter. Saya di depan, mas Obenk mengikuti. Alhasil kami mengobrol dengan agak berteriak, membiarkan pendaki lain menikmatinya jga *kami kampret banget kan*

12.45 WIB
Sampai di Buk Indah lagi. Warung sudah ramai lagi oleh pendaki yang baru turun. Kami hanya beristirahat sebentar sambil menikmati es nutrisari dan kacang goreng nikmat.

Perjalanan kali ini bukan soal berapa kali. Namun tentang rindu yang membuncah dan mencharge ulang energi positif

Advertisements