Gn. Pundak, Pringgondani, dan sekitarnya


image

Jadi, Gunung Pundak (1.587 mdpl) dkk ini sebenarnya salah satu dari banyak puncak punggungan kecil di sekitar kawasan Gn. Welirang (3.156 mdpl). Gn. Pundak lebih populer untuk kegiatan diklat atau sekedar trekking akhir pekan atau camping ceria selain Gn. Penanggungan yang terletak di Trawas, Mojokerto.

Ini ke-4 kalinya (terakhir November 2013 lalu) saya menengok Pundak, yang notabene tempat langganan organisasi mapala kami; Himapala Universitas Negeri Surabaya melaksanakan diklatsar. Masih sangat membekas di ingatan saya, 4 tahun lalu tepatnya 11-14 November 2010, usai hampir sebulan lebih digembleng dengan materi ruang dan fisik, akhirnya saya dan ketujuh belas teman, diuji di lapangan *nostalgia dikit gapapa yak.hehe

Hari ke-1 / 11 November 2010
Start point pendakian di Desa Cembor, kec. Claket, kab. Mojokerto. Materi awal yang diujikan adalah PPGD atau Pertolongan Pertama Gawat Darurat (yang sekarang sudah direvisi menjadi PP alias Pertolongan Pertama). Saya ada di kelompok 2 dengan nama Merapi dengan yel-yel super konyol.

Disini Merapi, disana Merapi
Dimana-mana ada Merapi
Disini Merapi, disana Merapi
Dimana-mana ada Merapi
Lalalalalalala Lalalalalalala Lalalalalalala Lalalalaaaaa~

Males banget kan?

image

Malam pertama di tengah hutan. Dan juga pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tempat yang benar-benar hutan di atas gunung. Usai makan malam, panitia menyuruh kami membuat bivak dari ponco masing-masing dan segera beristirahat.

Namanya juga pertama kali, sekitar jam 11 malem saya kebangun gara-gara kedinginan. Ternyata teman satu kelompok saya idem. Tanpa pikir panjang, kamipun menyalakan kapas dan spirtus di dalam kaleng, merebus air untuk sekedar membuat minuman hangat. Tiba-tiba..
‘kkkrssekk.. krskk..’
(Kami waspada)
“Heh, kalian ngapain! Disuruh tidur malah masak. Jam berapa ini!” bentak Mas Obenk yang waktu itu menjadi sie operasional super jutek.
Dan malam itu berakhir dengan poin, haha!

Tengah malam, panitia membangunkan kami satu persatu untuk JJM alias Jalan-Jalan Malam, mencari 5 instruksi sekaligus menguji mental berjalan sendirian dengan berbekal sebatang lilin sampai titik finish yang sudah ditentukan.

Hari ke-2 / 12 November 2010
Yiihaaa~ Hari ini bakalan menjadi hari yang panjang karena seharian full kami akan melaksanakan praktek Navigasi Darat. Tiap kelompok berbagi tugas, ada yang menjadi leader, shooter, dan pencatat.

image

Resection, Intersection, Azimuth, Back Azimuth, dst..

image

image

Sampai di titik finish (puncak Pundak) siang hari. Saya sempet drop dan hopeless. Sempet juga nangis dikit sambil ngomong ngalor-ngidul macam orang gila. Teman satu kelompok saya berusaha menenangkan dan memberi semangat saya agar kuat lanjut sampe diklat usai.*cengeng lu, Paaals*

Sampe sekarang malu banget kalo inget saat itu’

Usai ishoma, kami melanjutkan ke puncak yang lebih tinggi, sebut saja puncak LKKH XXXI. Alhamdulillaaah~

image

image

Usai upacara, foto sekedarnya untuk dokumentasi kegiatan dan tak lupa penyicilan poin yang ‘dihadiahkan’ oleh panitia sebab kesalahan-kesalahan yang kami lakukan sejak awal diklat dimulai.Daaan, entah berapa ribu poin kami waktu itu. Yang pasti 1 poin = 10x push up / sit up / back up. Yiihaaa~

image

image

Setelah membayar poin, kami kembali turun menuju camp di puncak Pundak..

image

Sampai di puncak Pundak lagi, kami melaksanakan sholat berjama’ah. Karena itulah, angkatan kami dijuluki angkatan Himapala Syari’ah. Alhamdulillah, semoga istiqomah 😀

Hari ini sungguh melelahkan. Malamnya kami harus membuat bivak kelompok menggunakan kayu mati, ranting dan daun kering untuk beristirahat. Malam itu kami tidur beralaskan daun-daun kering sambil mendengarkan serangga-serangga kecil meninabobokkan raga yang kelelahan..

Tengah malam, seperti kemarin, panitia mengobrak-obrak kami bangun untuk Solo Camp. Kami berdelapan belas berbaris sambil pegangan pundak teman di depannya, berjalan sambil menutup mata kemudian satu persatu kita ditarik panitia dari belakang dan didudukkan di titik-titik yang sudah dibagi sepanjang jalur yang dilewati. Setelah itu kita yg sebelum jalan tadi hanya boleh bawa satu buah lilin, pulpen dan ponco harus diam di tempat yang sudah ditentukan (tidak diperbolehkan jalan kemana-mana) sambil mengerjakan angket yang dibagikan saat panitia menyalakan lilin kami. Ya, kami tidak boleh bawa korek, jadi sebisa mungkin lilin tersebut jangan sampe mati sampe subuh.

Longornya kami. Saya ga bawa pulpen gara-gara gagal memahami instruksi panitia *buru-buru sih* Jadi kami mengira satu kelompok bawa satu pulpen. Yap, pulpen hanya dibawa ketua kelompok dan saya harus memutar otak bagaimana caranya angket harus tetap diisi (wajib). Tiba-tiba terbersit ide untuk membakar ranting kecil yang sudah kering, tiup ujungnya kemudian pakai untuk menulis! The power of Kepepet! Lumayanlah buat nulis daripada ga ngisi sama sekali (menandakan ga punya usaha.hihi). Beberapa pertanyaan ingin sekali saya jawab panjang lebar, namun saya urungkan karena si ranting ga bisa diajak kompromi nulis terlalu panjang. Keburu patah, cuy! Jadilah tulisan saya plintat-plintut, tebal disana, tipis dimana-mana tapi masih bisa kebaca walau setengah-setengah, haha!

Ditengah asyik konsentrasi menulis pake ranting, baru ngeh kalo lilin tinggal seujung kuku. Duh, ngapain tadi pas jalan baris pake acara patah sih kamu, lin.
3.. 2.. 1.. Blep. Sekejap gelap. Lilin saya mati, mak! Okeh kali ini saya pasrah. Celingak-celinguk sambil berdo’a, menjaga pikiran jangan sampai kosong dan terlena. Yang kelihatan cuma nyala lilin temaram milik beberapa teman di kejauhan. Ada juga kunang-kunang terbang di sekitar tempat saya. Merinding disko. Komat-kamit lagi. Beberapa pertanyaan di angket belum sempat terjawab memang. Tapi ah, tidur sajalah.

Solo camp sukses ketika saya yang meringkuk berselimut ponco dibangunkan panitia saat langit mulai bersemu biru – jingga. Yihaaa~

Hari ke-3 / 13 November 2010
Hari ini yang paling saya tunggu.
I’m so excited, Mounteneering!

image

image

image

Usai turun dari air terjun dengan rapling, kami melakukan praktek Penyaringan air, Herbarium dan Plestercase. Saya kebagian Penyaringan air 😀

Setelah Mountaineering dkk selesai, kami turun gunung menuju basecamp dan di tengah perjalanan mempraktekkan Analisa Vegetasi di plot-plot yang sudah dipilih. Dan jangan lupa, menyicil poin juga 😀

•••

Sekitar pukul 8 malam, kami sampai di basecamp. Lelah, lapar, dan ngantuk bercampur aduk.

image

Ternyata ‘penderitaan’ belum usai. Sebelum masuk basecamp, kami diharuskan melunasi semua poin. Tentunya dengan remisi mengingat senior-senior kami masih punya nurani. Hokya!

Akhirnya kami diperbolehkan masuk dan beristirahat di bivak ponco yang dibangun per kelompok. Seperti malam-malam sebelumnya, panitia membangunkan kami tengah malam dengan bentakan yang paling keras, lebih keras dari yang sudah-sudah. Kami harus berjalan dengan jongkok, bergulung-gulung padahal jalannya nanjak, berguling, jungkir balik, nungging dan berbagai macam gaya lainnya sambil terus bergerak maju. Bentakan dan sumpah serapah malam itu tanpa sensor dan volume maksimal, bass full mode, speaker stereo.
Beberapa jam berlalu, sampailah kami di lapangan kecil. masih dengan tersungkur bercampur lumpur dan tanah, kami mengambil napas panjang sebelum dikomando untuk berkumpul dan melaksanakan renungan malam yang ternyata berakhir dengan tangis haru, membuat hasrat ingin cepat pulang dan segera memeluk ibu. Malam yang sangat berkesan.

Hari ke-4 / 14 November 2010 (hari terakhir)

image

Minggu pagi yang cerah. Perasaan plong setelah semalam digembleng to the max sebelum pembai’atan atau penyematan scarft yang menandakan kami resmi dan lulus menjadi calon anggota. Yap, masih calon.

———— •• ————

Yaelah, nostalgilanya panjang amat, Paaals *namanya juga nostalGILA.haha*

Jika ingin mencoba jalur antimainstream, Gn. Pundak bisa jadi rekomendasi tepat. Anda dapat naik dari jalur Ds. Cembor, pemandian air panas Pacet maupun air terjun Dlundung, Trawas, Mojokerto. Masing-masing jalur menyajikan tantangan dan sensasi tersendiri.

Dari Pundak, selanjutnya bisa lanjut ke puncak Gn. Pringgondani yang terdapat beberapa pohon cemara yang sudah roboh. Ada sumber air (terletak sebelum puncak Pringgondani, ada plakat putih milik Perhutani) berupa aliran dari pipa penduduk yang bisa dilepas sebentar untuk persediaan air.

Turun dari Pringgondani, melewati area pinus yang disekitarnya ditanam Asitaba. Anda bisa memilih langsung turun menuju Dlundung, atau mampir sejenak mengintip puncak Gn. Buthak yang ditumbuhi semak dan tumbuhan bersulur-sulur.

image

image

Selamat mengeksplor! 😀

Advertisements

Published by

NF Palestine Turmudzy

A wanderer. A freelancer. A fulltime-dreamer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s