Candi Jedong: Cantik Berdiri di Kaki Pawitra


image

Jadi rencana awal menjelang puasa itu sambang ke Buk Indah trus ndaki Gn. Penanggungan (1.653 mdpl) di Ds. Tamiajeng, Trawas, Kab. Mojokerto. Entah apa yang bikin batal, pokonya hari Minggu kemaren ini (22/06) akhirnya malah ke Candi Jedong.
Gapapa lah ga jadi ndaki Penanggungan, soalnya Candi Jedong ini terletak di kaki Gn. Gajah Mungkur; puncak kaki Penanggungan sebelah utara.

Berangkat dari rumah sekitar pukul 10.30 pagi agak siang. Ngangkot sampe Apollo, janjian sama my partner in trip; Mas Obenk.hehe

Berangkaaat!

Awalnya lancar-lancar aja, sampe akhirnya Mas Obenk tanya,
dia: dari Ngoro Industri kemana lagi arahnya?
saya: pokonya masih 2km
dia: iya ke arah mana tapi?
saya: di internet penjelasannya cuma itu sih ._.
dia: lain kali kalo mau kemana-mana, pastikan dulu alamat lengkapnyaaa
saya: *terdiam*
dan alhasil kita berdua seperti biasa; NYASAR.
Setelah nyasar ±2km ke arah Barat dari NGI, tepatnya di Ds. Kuto Girang dan Ds. Lolawang, akhirnya kami putuskan untuk bertanya kepada penduduk sekitar, katanya; “lhoalah dek, Jedong ya udah kelewatan tadi. Dari NGI itu ke arah selatan..”
Oalaaaah pantesan nyasar. Saya sama Mas Obenk tadi 2km ke barat, bukan ke selatan *salah saya juga sih*

Awalnya Mas Obenk agak sewot juga sih saya ajak muter-muter nyasar, trus saya ajak balik aja. Tapi ternyata dia kayaknya ga tega ngliat ekspresi saya yang agak ga ikhlas kalo balik sebelum ketemu candinya. Dianya juga penasaran sih.hehe Akhirnya Mas Obenk ga jadi ngegas balik Sukro. Yeaaaah!

imageTernyata gang kecil samping NGI (kalo dr arah Malang, sebelum NGI) itulah gerbang menuju Ds. Wotanmas, Jedong. Dari situ ternyata memang ±2km dengan trek khas lereng gunung yang lumayan menanjak. Ini baru bener!

 

Setelah sekitar 15 menit perjalanan, akhirnyaaa~

 

 

 

 

image

image

image

image

Mengenai bangunan candi, saya kutipkan dari blog yang lebih aja berkompeten ya 😀

Daya tarik Situs Jedong adalah keberadaan dua bangunan tua berbentuk gapura. Kedua bangunan ini juga popular disebut sebagai Candi Jedong. Menurut laporan tahun 1907 di Desa Jedong ada tiga buah gapura, namun saat ini tinggal dua buah yang masih utuh. Gapura yang dari batu bata terletak di sebelah utara terpahat angka 1326 Masehi dan sekarang tinggal reruntuhannya saja. Sedangkan dua buah gapura dari batu andesit yang berdiri biasa kita lihat berporos (arah pintu) barat timur masing-masing letaknya berjarak 80 meter. Kedua gapura terletak di sisi barat sebuah teras dengan bekas pagar tembok keliling.

Gapura I berbentuk paduraksa yaitu gapura yang bagian atapnya menjadi satu, ukuran panjang 12,51 meter, lebar 5,19 meter dan tinggi 9,75 meter,bahan dari batu andesit. Gapura Jedong I terdiri dari 3 bagian yaitu kaki, tubuh dan atap, pintu keluar masuk berada di bagian tubuh menghadap ke arah barat-timur. Bagian kaki polos tidak berhias dan bagian tubuh juga polos. Sedangkan bagian atap di bagian bawahnya terdapat hiasan kala yang menempel pada masing-masing sisinya, kemudian ada hiasan berbentuk gapura kecil yang menempel berderet pada tingkatan atas. Tiap sudutnya dihiasi motif gunung (antefik). Pada bagian ambang pintu gapura I terdapat angka tahun dalam bentuk Candra Sangkala yang berbunyi: Brahmana- Nora-Kaya-Bhumi yang berarti sama dengan angka tahun 1307 Saka atau 1385 M. Sengkalan pada ambang pintu dimungkinkan sebagai tahun peresmian gapura sebagai pintu masuk ke Desa Perdikan.

Gapura II berbentuk paduraksa yaitu gapura yang atapnya menjadi satu, ukurannya panjang 6,86 meter, lebar 3,40 meter dan tinggi 7,19 meter, bahan dari batu andesit. Gapura II tidak ada pahatan angka tahun tetapi didekat pintu II ditemukan batu bekas bangunan dengan pahatan angka tahun 1378 Saka/1456 Masehi.

Fungsi kedua gapura diperkirakan sebagai pintu masuk ke Desa  Perdikan (Sima). Desa Perdikan merupakan daerah yang dibebaskan dari kewajiban pajak. Sengkalan (simbol) angka tahun pada ambang pintu Gapura Jedong I diperkirakan sebagai peresmian gapura, sebagai pintu masuk ke desa Perdikan itu. Situs Jedong sendiri sebenamya merupakan wilayah yang keberadaannya diperkirakan sudah ada lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Bahkan keberadaan wilayah ini sudah disebut-sebut sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah sampai periode Kerajaan Majapahit yang berpusat di Mojokerto. Hal itu berdasarkan sejumlah prasasti yang ditemukan di sejumlah tempat.

( dikutip dari: https://jawatimuran.wordpress.com/2012/03/16/candi-jedong/ yang juga dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Derap Desa. Desaku Menatap Dunia, Edisi XXXXI, Maret 2011. hlm.46 )

image

image

Kalo menurut masyarakat setempat, Gapura Jedong I diberi nama Candi Lanang (Laki-laki) dan Candi Wadon untuk Gapura Jedong II yang keduanya terbuat dari batu andesit. Gapura satu dengan lainnya berjarak 80 meter dan dihubungkan dengan talut (pagar) yang terbuat dari batu bata.

image

Gapura Jedong II dan penampakan :D
Gapura Jedong II dan penampakan 😀

Oiya, nyampe sini kami disambut 2 ekor kambing kecil yang kemudian ngikutin terus.hihi

image
panggil saja Roni dan Bleki xD

 

 

serius amat sih, Blek xD
serius amat sih, Blek xD

Simageepulang dari sini, kami langsung capcus ke warung bakso Cak Kasan. Lapeeeeer, padahal di Candi Jedong tadi sempet makan bontotan spaghetti dari rumah *emang dasar perut karung* Di tengah jalan eh, malah ktemu penjual es krim tradisional (biasanya rasa coklat & kacang ijo) harganya cuma seribu!

 

 

 

 

Selamat mengeksplor!

Advertisements

Published by

NF Palestine Turmudzy

A wanderer. A freelancer. A fulltime-dreamer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s