Candi Pari – Candi Sumur: Serpihan Kisah Jaman Majapahit di Pinggiran Sidoarjo


image
salah satu sudut Candi Pari

Hari Minggu adalah kesempatan untuk menghabiskan waktu, entah naik-turun gunung, kuliner, bahkan wisata sejarah mengingat saya sudah tidak bisa sebebas saat kuliah di Surabaya kemarin. Berangkat dari Tanggulangin sekitar pukul 11 siang. Sukro segera digas menuju Pasar Porong kemudian lurus ke timur sampai ketemu plang yang menunjukkan arah ke Desa Candi Pari. Luruuus saja ke utara sampai di desa tinggal bertanya penduduk setempat.

image
Selamat datang, di Candi Pari!
image
Candi Pari dengan background langit yang cantik 🙂

Candi Pari yang masih berdiri kokoh ini dibangun pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1371 M untuk mengenang kisah Jaka Pandelegan (Candi Pari) dan Nyai Ageng Walang Angin (Candi Sumur).

Cerita sejarah sedikit gapapa kan?hehe
Berawal dari kisah Jaka Pandelegan yang dikutuk menjadi raja ikan (Deleg), kemudian bisa kembali menjadi manusia atas jasa Jaka Walang Tinunu yang merupakan anak dari Janda Ijingan, adik Kyai Ageng Penanggungan. Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan kemudian akrab layaknya kakak dan adik akhirnya jatuh cinta kepada 2 putri sang Kyai; Nyai Loro Walang Sangit dan Nyai Loro Walang Angin.

image
peninggalan yang tersisa..

Singkat cerita, saat Majapahit mengalami paceklik, Jaka Pandelegan dan Nyai Loro Walang Angin yang sangat sukses menanam bibit yang diberi oleh Kyai Ageng Penanggungan memiliki panen yang berlimpah. Sang Prabu mendengarnya kemudian mengutus Patih untuk menjemput mereka yang telah membantu kerajaan dari paceklik untuk dinaikkan derajatnya, namun keduanya menolak, kemudian menghilang. Akhirnya di tempat Jaka Pandelegan dibangunlah Candi Sumur dan sekitar 50 meter dari situ, tempat Nyai Loro Walang Angin dibangun Candi Pari.

image
tumbenan narsis -_-

Nah, awalnya kami berdua hanya berniat ke Candi Pari. Namun saat kami hendak pulang, beberapa warga yang sedang duduk-duduk sekitar situ merekomendasikan Candi Sumur yang ternyata letaknya sudah saya tulis tadi.

image
Selamat datang di Candi Sumur!

Candi ini agak berbeda dengan candi-candi pada umumnya. Bentuknya letter L, terbuka dan di tengah terdapat sumur berdiameter kotak dengan kedalaman ± 3 meter.

image
pengunjung biasanya melempar koin di sumur ini

Berdasarkan wawancara dengan kuncen Candi Pari; Mbah Karsono, pada jaman dahulu, sebelum berdoa di Candi Pari, siapapun diwajibkan untuk menyucikan diri terlebih dahulu di Candi Sumur. Biaya untuk perawatan kedua candi tersebut sampai saat ini masih swadaya dari masyarakat sekitar dan pemberian seikhlasnya oleh pengunjung sehingga sangat diharapkan adanya perhatian pemerintah setempat agar sejarah tetap terjaga.

image
Mbah Karsono, kuncen Candi Sumur

Akses menuju Candi Pari dan Candi Sumur hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua maupun empat. Dari Porong ±15 menit, sedangkan dari Sidoarjo ±30 menit perjalanan. Pemandangan sepanjang perjalanan terhampar sawah dengan background Gn. Penanggungan, bahkan Arjuno-Welirang juga.

image
Arjuno - Welirang (belakang) dan Penanggungan (paling depan)
image
jalan trooos!

Selamat mengeksplor!

Advertisements

Published by

NF Palestine Turmudzy

A wanderer. A freelancer. A fulltime-dreamer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s