Candi Pari – Candi Sumur: Serpihan Kisah Jaman Majapahit di Pinggiran Sidoarjo

image
salah satu sudut Candi Pari

Hari Minggu adalah kesempatan untuk menghabiskan waktu, entah naik-turun gunung, kuliner, bahkan wisata sejarah mengingat saya sudah tidak bisa sebebas saat kuliah di Surabaya kemarin. Berangkat dari Tanggulangin sekitar pukul 11 siang. Sukro segera digas menuju Pasar Porong kemudian lurus ke timur sampai ketemu plang yang menunjukkan arah ke Desa Candi Pari. Luruuus saja ke utara sampai di desa tinggal bertanya penduduk setempat.
Continue reading Candi Pari – Candi Sumur: Serpihan Kisah Jaman Majapahit di Pinggiran Sidoarjo

Advertisements

Terima kasih, teman :’)

image
berapa umurmu, nak? 5 tahun, kakaaa

Tas Eiger butut kesayangan yang sudah menemani saya sejak SMA :’). Menemani mulai dari jaman maen sama kambing, turun sawah, naek bukit (ya, masih bukit karena masih harus hidup di pesantren, uhuy xD) sampe awal-awal jadi mahasiswa baru desain grafis di Unesa, diajak temen ikut Mapala (yang notabene waktu itu saya sumpah ngeblank apa itu Mapala xD) berjuang mati-matian biar bisa jadi anggota Himapala Unesa mulai dari diklat di Gn. Pundak, jadi tim support Pataka 33 (Perjalanan Tapak Kaki dari Kenjeran – Gn. Welirang), pameran reptil, TryOut 1 Rock Climbing & Caving (kawasan Goa Lowo, Tuban), dan Rafting (S. Brantas dari Mojokerto – Surabaya), sampe TryOut 2 Navigasi Darat dan Konservasi di Gn. Arjuno via Lawang, hingga akhirnya saya bisa benar-benar jadi anggota, menemani perjalanan tiap bulan ke Penanggungan, sampe solo-backpacking (walopun cuma berangkatnya doang xD) ke Rinjani, Gili Trawangan, 3x ke Bromo, Bukit Kingkong, latihan tiap bulan ke Pekalen Probolinggo, sampe TryOut 2 XPDC Lawe Alas di Serayu, Banjarnegara, hingga akhirnya ikut juga silaturrahmi ke sekretariat KMPA Eka Citra Univ. Negeri Jakarta, sekretariat Kompas USU (Univ. Sumatera Utara), dan berlabuhlah di Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh Tenggara tempat kami melaksanakan XPDC Lawe Alas dengan waktu pengarungan 5hari 4malam, menelusuri kurang lebih 150 km, mengenal kearifan lokal masyarakat Suku Alas, singgah di Subulussalam ‘mencicipi’ air terjun menakjubkan Sungai Lae Kombih dan mengarunginya, hingga mengintip kekayaan alam tanah Karo.

Aku cinta padamu, Indonesia.