sebuah renungan di hari kemerdekaan


IMG_0155

Setelah sekian lama vakum *sambil bersihin sarang laba-laba disana-sini*, kali ini saya lagi pengen posting yang agak cengengan dikit *tssah*

Berawal dari saya yang hampir lulus mengingat saya udah dalam masa penantian yudisium dan wisuda, orang tua udah pada ngerengek minta saya nerusin ke jenjang yang lebih tinggi, S1 DKV. Hmm.. bukannya apa sih *apa sih bukannya .-.* cuma otak saya rasanya masih pening buat ngadepin dosen yang pastinya yaa.. begitulah *if u know what i mean*. Pengennya nih, saya nyari kerja dulu, meskipun freelance-freelance apa gitu kan mending daripada nganggur sama sekali *uhuk.alibi*.

Jadi sebenernya saya pengen cerita tadi, pas saya sama ayah lagi nonton upacara bendera di tipi. Nah, tiba-tiba aja ayah nyaut soal paskibraka.

ayah: kamu dulu ga kepingin ikut paskib-paskib gitu ya?

saya: eh? dulu sih diajak, tapi saya nolak, yah..

ayah: jadi paskib kalo udah sampe ke istana negara gitu enak, dapet sertifikat yang bisa dibuat ngelamar kerjaan kemana-mana gampang.. bla bla bla..

Sekejap saya jadi terhenyak, terdiam. Rada mikir juga sih, ko kayaknya saya belum bisa membanggakan orang tua saya dari sisi apapun. Yang saya lakukan selama ini cuma menyambangi puncak-puncak gunung dan ‘lupa’ jalan pulang ke rumah. Tapi yang bikin saya agak bingung, ga jarang ayah cerita ke sodara-sodara tentang petualangan-petualangan saya ke pelosok negeri ini dengan nada yang (saya harap dan yakin) itu adalah nada mendukung dan (mungkin agak) bangga. Tapi tentu saja kata-kata ayah tadi tetep bikin saya mikir, kapan saya bisa bener-bener banggain ortu *sedot ingus* 😥

Karena manusia tidak hidup atau mati dalam kesia-siaan [War of the Worlds]

Ah, sudahlah..

Advertisements

Published by

NF Palestine Turmudzy

A wanderer. A freelancer. A fulltime-dreamer.

4 thoughts on “sebuah renungan di hari kemerdekaan”

  1. Bangga dan membanggakan kadang dua hal perlu untuk dikompromikan, perbincangan santai dan serius kadang diperlukan untuk mengarahkan pada visi yang sama. Lakukan dengan sepenuh hati pada sesuatu yang “baik”, faktanya kita adalah mahluk yang dianugerahi emosi dan keinginan yang kadang naik gunungpun masih dianggap pemborosan waktu serta mengobral resiko keselamatan. “Merdeka”.. para Pahlawan adalah sosok yang mampu untuk memberikan keselamatan demi sebuah tujuan yang baik, naik gunungpun bisa membangun sebuah kedekatan serta menempa mental untuk berjuang dalam menaklukan dunia dalam menjalani hidup dan menjadi pribagi yang membanggakan….. Semoga…

    1. yap.dan faktanya juga, orang tua kadang memandang sebelah mata dengan hal-hal yang menurut mereka pemborosan dan tidak ada unsur prestige atau terkesan berfoya – foya. terima kasih sudah mau berkunjung 🙂 Merdeka!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s